Kamis, 29 Agustus 2019

Asyiknya Bermain Games Edukasi Karya Sendiri


Asyiknya Bermain Games Edukasi Hasil Karya Sendiri
Nobar#Temu Pendidik Sekolah#Komunitas Guru Belajar Banyumas


Belakangan ini games menjadi primadona dikalangan anak-anak dan juga orang dewasa. Bahkan tidak sedikit dari mereka kecanduan dengan aplikasi tersebut. Kecanduan ini disebabkan banyak hal, salah satu diantaranya adalah kemudahan memainkan games tersebut. Pengguna bisa memakai Smartphone untuk memainkan games atau gawai lain yang dimiliki. Belum lagi semakin murahnya biaya internet atau sewa warnet yang begitu mudah. Hal ini menjadi alasan keresahan orang tua sekaligus ‘tantangan’ bagi para pendidik sebagai patner dalam mendidik anak-anak.
Bermain adalah fitrah bagi manusia. Dari usia anak-anak sampai dengan orang tua banyak dari kita yang tidak lepas dari permainan. Bahkan Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan di Indonesia menyatakan bahwa sekolah itu adalah sebuah ‘taman’. Di taman inilah seorang guru mendidik anak dalam suasana yang menyenangkan. Taman Belajar harus didesain sebagai sebuah tempat bermain yang menyenangkan. Sekolah bukanlah sebuah tempat yang kaku untuk belajar. Oleh karena itu seorang guru harus menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan membuat siswa merasa senang. Salah satunya adalah dengan mendesain sebuah permainan dalam pembelajaran.
Hari Sabtu tanggal 29 Juni 2019 KGB Banyumas mengadakan Nobar sekaligus Diskusi di Kampus 2 SDIT TOP Kids dengan mengambil tema ‘Pemanfaatan IT dalam Pembelajaran’. Tema ini diangkat karena masih banyak guru yang anti terhadap pemanfaatan teknologi. Padahal hampir semua guru sudah banyak memanfaatkan kemajuan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi dalam proses belajar mengajar, mereka masih belum bisa memanfaatkan secara maksimal. Diskusi ini harapanya bisa membuat anggota KGB Banyumas untuk memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.
Sesi pertama adalah acara nonton bareng video Merdeka Belajar dari Najeela Shihab dan penyampaian materi oleh saya Wayan Hairunnaimah. Masih banyaknya guru yang terbelenggu dengan aturan dan kurikulum di sekolah seringkali membuat guru kaku dalam mengajar. Kurikulum yang bersifat sentralistik dari pusat ke bawah menjadikan tidak sesuai dengan kondisi sekolah. Guru dalam keadaan ini terbawa aturan dengan mengenyampingkan kebutuhan siswa. Yang lebih parah adalah kondisi dimana guru tidak lagi peduli dengan keinginan dan cara belajar siswa karena lebih mementingkan ketercapaian kurikulum.
Setelah sesi diskusi pandangan peserta KGB Banyumas mulai terbuka dengan berbagai refleksi yang disampaikan teman-teman guru di Banyumas. Banyak diantara teman guru yang baru meyadari adanya miskonsepsi tentang mendidik. Miskonsepsi inilah yang kemudian menjadi bahan diskusi seru bagi teman-teman guru semua setelah menyimak video dari Najeela Shihab. Sangat penting bagi guru untuk lebih merdeka dalam melakukan pengajaran dan mendidik siswa. Guru harus mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat dalam pembelajaran, bahkan tidak sampai disitu guru harus menyesuaikan diri dengan ‘keinginan’ siswa dalam pembelajaran. Ketika kedua hal ini terpenuhi maka disinilah makna Merdeka Belajar yang sesungguhnya.
Sesi kedua dari narasumber Bapak Waryanto menyampaikan materi tentang cara membuat games edukasi. Games edukasi dibuat guru untuk menandingi peredaran game yang ada. Guru dituntut untuk bisa membuat secara mandiri. Ada begitu banyak tools yang bisa dipakai oleh guru untuk menciptakan games edukasi. Secara umum ada dua macam games yang bisa dibuat dan dimainkan oleh guru dan siswa di sekolah. Ada games yang bisa dimainkan secara offline dan ada juga online. Kelebihan games offline adalah dapat dimainkan oleh siswa tanpa membutuhkan biaya internet. Sedangkan games online kelebihanya adalah bisa dimainkan secara kolaboratif dan biasanya lebih asyik dan interaktif, meskipun membutuhkan biaya lebih.
Guru bisa memanfaatkan banyak aplikasi yang sudah dimiliki untuk membuat games. Bahkan aplikasi Microsoft Office yang setiap hari digunakan untuk kegiatan kantoran, bisa juga untuk membuat games yang menarik. Dalam hal ini narasumber memberikan contoh membuat games dengan menggunakan aplikasi Microsoft Excel. Aplikasi ini bisa power full ketika guru dapat memanfaatkan dengan baik.
Ada juga games yang dibuat dan dimanfaatkan secara online. Narasumber mencontohkan membuat games puzzle. Game ini dapat dibuat oleh guru dengan memanfaatkan aplikasi online di https://appsgeyser.com yang dapat diperoleh secara gratis. Untuk usia SD level bawah dapat memanfaatkan games puzzle ini dengan membuat gambar-gambar yang cocok untuk pembelajaran. Sedangkan untuk level yang lebih tinggi, Guru dapat memodifikasi gambar berupa pertanyaan dan jawaban yang nantinya bisa disusun oleh siswa.
Pada sesi ini para peserta KGB diminta untuk langsung mempraktekannya di laptop atau handphone masing-masing. Tujuanya agar setiap peserta KGB bisa membuat games sendiri. Hal ini tentu akan menjadi kebanggan dan rasa puas bisa menciptakan games sendiri sesuai dengan materi pembelajaran. Terobosan baru ini tentu sangat menyenangkan bagi anak-anak dan menumbuhkan perasaan bangga dalam diri mereka karena games yang dimainkan hasil karya sendiri.
Kemampuan membuat games secara mandiri merupakan salah satu dari  ciri guru Merdeka belajar yang terdiri dari komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi disetiap akhir pembelajaran.  Setiap guru bisa menetukan tujuan yang ingin dicapai dan fokus pada tujuannya sekaligus bisa mengajak anak-anak  untuk berkarya dalam proses  membuat projek mandiri yang bisa dilakukan di sekolah maupun dirumah, hal ini bisa melatih anak-anak untuk  komitmen dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugasnya.
Mengutip kembali yang disampaikan oleh narasumber bahwa banyaknya stigma negatif terhadap penggunaan smartphone disekolah, sebagian guru masih menganggap bahwa smartphone adalah “musuh” sehingga munculah larangan membawa smartphone ke sekolah. Sekolah sepertinya ingin melepaskan diri dari tanggung jawab menggunakan smartphone. Dilain sisi orang tua begitu mudahnya memberikan fasilitas smartphone kepada anak. Sebenarnya bukan tanpa alasan, orang tua tentu lebih dimudahkan ketika anak mereka dibekali smartphone. Ada yang hanya menggunakan untuk kepentingan dasar yaitu komunikasi. Tapi banyak pula yang tidak hanya sekedar untuk berkomunikasi. Pendidikan itu tanggung jawab bersama ketika orang tua mengharuskan membawa smartphone meskipun hanya untuk berkomunikasi. Dan sementara itu sekolah melarang anak membawa smartphone ke sekolah, maka ini tentu tidak akan sinkron.
Kita menyadari bahwa Smartphone memang banyak sisi negatifnya tetapi bukan berarti bahwa smartphone tidak bisa memberikan kontribusi positif terhadap pendidikan. Hal ini sangat tergantung dengan kita sebagai orang tua dan guru dalam hal mendidik.
Pakwaronline.com juga menyampaikan bahwa banyak peluang pembelajaran yang menarik berbantuan games edukatif dan membuatnya pun cukup dalam hitungan menit. Pesan terahir yang disampaikan bahwa “Musuh terbesar kita bukan smartphone. Musuh kita adalah kemalasan dalam membuat pembelajaran yang menarik.”

Temu Pendidik Sekolah # Komunitas Guru Belajar Banyumas
Kampus 2 SDIT TOP Kids Jln.Kridamandala Sokaraja tengah Banyumas Jawa tengah
Korespondensi : Wayan Hairunnaimah ( SDIT TOP Kids )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar