Asyiknya Bermain
Games Edukasi Hasil Karya Sendiri
Nobar#Temu Pendidik Sekolah#Komunitas
Guru Belajar Banyumas
Belakangan ini games
menjadi primadona dikalangan anak-anak dan juga orang dewasa. Bahkan tidak
sedikit dari mereka kecanduan dengan aplikasi tersebut. Kecanduan ini
disebabkan banyak hal, salah satu diantaranya adalah kemudahan memainkan games
tersebut. Pengguna bisa memakai Smartphone untuk memainkan games
atau gawai lain yang dimiliki. Belum lagi semakin murahnya biaya internet atau
sewa warnet yang begitu mudah. Hal ini menjadi alasan keresahan orang tua sekaligus
‘tantangan’ bagi para pendidik sebagai patner dalam mendidik anak-anak.
Bermain adalah fitrah
bagi manusia. Dari usia anak-anak sampai dengan orang tua banyak dari kita yang
tidak lepas dari permainan. Bahkan Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan
di Indonesia menyatakan bahwa sekolah itu adalah sebuah ‘taman’. Di taman
inilah seorang guru mendidik anak dalam suasana yang menyenangkan. Taman
Belajar harus didesain sebagai sebuah tempat bermain yang menyenangkan. Sekolah
bukanlah sebuah tempat yang kaku untuk belajar. Oleh karena itu seorang guru
harus menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan membuat siswa merasa
senang. Salah satunya adalah dengan mendesain sebuah permainan dalam
pembelajaran.
Hari Sabtu tanggal 29
Juni 2019 KGB Banyumas mengadakan Nobar sekaligus Diskusi di Kampus 2 SDIT TOP
Kids dengan mengambil tema ‘Pemanfaatan IT dalam Pembelajaran’. Tema ini
diangkat karena masih banyak guru yang anti terhadap pemanfaatan teknologi.
Padahal hampir semua guru sudah banyak memanfaatkan kemajuan teknologi dalam
kehidupan sehari-hari. Tetapi dalam proses belajar mengajar, mereka masih belum
bisa memanfaatkan secara maksimal. Diskusi ini harapanya bisa membuat anggota
KGB Banyumas untuk memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.
Sesi pertama adalah acara
nonton bareng video Merdeka Belajar dari Najeela Shihab dan penyampaian materi
oleh saya Wayan Hairunnaimah. Masih banyaknya guru yang terbelenggu dengan
aturan dan kurikulum di sekolah seringkali membuat guru kaku dalam mengajar.
Kurikulum yang bersifat sentralistik dari pusat ke bawah menjadikan tidak
sesuai dengan kondisi sekolah. Guru dalam keadaan ini terbawa aturan dengan
mengenyampingkan kebutuhan siswa. Yang lebih parah adalah kondisi dimana guru
tidak lagi peduli dengan keinginan dan cara belajar siswa karena lebih
mementingkan ketercapaian kurikulum.
Setelah sesi diskusi
pandangan peserta KGB Banyumas mulai terbuka dengan berbagai refleksi yang
disampaikan teman-teman guru di Banyumas. Banyak diantara teman guru yang baru
meyadari adanya miskonsepsi tentang mendidik. Miskonsepsi inilah yang kemudian
menjadi bahan diskusi seru bagi teman-teman guru semua setelah menyimak video
dari Najeela Shihab. Sangat penting bagi guru untuk lebih merdeka dalam
melakukan pengajaran dan mendidik siswa. Guru harus mampu menempatkan diri pada
posisi yang tepat dalam pembelajaran, bahkan tidak sampai disitu guru harus
menyesuaikan diri dengan ‘keinginan’ siswa dalam pembelajaran. Ketika kedua hal
ini terpenuhi maka disinilah makna Merdeka Belajar yang sesungguhnya.
Sesi kedua dari narasumber
Bapak Waryanto menyampaikan materi tentang cara membuat games edukasi. Games
edukasi dibuat guru untuk menandingi peredaran game yang ada. Guru dituntut
untuk bisa membuat secara mandiri. Ada begitu banyak tools yang bisa
dipakai oleh guru untuk menciptakan games edukasi. Secara umum ada dua macam
games yang bisa dibuat dan dimainkan oleh guru dan siswa di sekolah. Ada games
yang bisa dimainkan secara offline dan ada juga online. Kelebihan games offline
adalah dapat dimainkan oleh siswa tanpa membutuhkan biaya internet. Sedangkan
games online kelebihanya adalah bisa dimainkan secara kolaboratif dan biasanya
lebih asyik dan interaktif, meskipun membutuhkan biaya lebih.
Guru bisa memanfaatkan
banyak aplikasi yang sudah dimiliki untuk membuat games. Bahkan aplikasi
Microsoft Office yang setiap hari digunakan untuk kegiatan kantoran, bisa juga
untuk membuat games yang menarik. Dalam hal ini narasumber memberikan contoh
membuat games dengan menggunakan aplikasi Microsoft Excel. Aplikasi ini bisa power
full ketika guru dapat memanfaatkan dengan baik.
Ada juga games
yang dibuat dan dimanfaatkan secara online. Narasumber mencontohkan membuat games
puzzle. Game ini dapat dibuat oleh guru dengan memanfaatkan aplikasi online
di https://appsgeyser.com
yang dapat diperoleh secara gratis. Untuk usia SD level bawah dapat
memanfaatkan games puzzle ini dengan membuat gambar-gambar yang cocok
untuk pembelajaran. Sedangkan untuk level yang lebih tinggi, Guru dapat memodifikasi
gambar berupa pertanyaan dan jawaban yang nantinya bisa disusun oleh siswa.
Pada sesi ini para
peserta KGB diminta untuk langsung mempraktekannya di laptop atau handphone masing-masing.
Tujuanya agar setiap peserta KGB bisa membuat games sendiri. Hal ini tentu akan
menjadi kebanggan dan rasa puas bisa menciptakan games sendiri sesuai
dengan materi pembelajaran. Terobosan baru ini tentu sangat menyenangkan bagi
anak-anak dan menumbuhkan perasaan bangga dalam diri mereka karena games
yang dimainkan hasil karya sendiri.
Kemampuan membuat games
secara mandiri merupakan salah satu dari
ciri guru Merdeka belajar yang terdiri dari komitmen pada tujuan, mandiri
terhadap cara belajar dan melakukan refleksi disetiap akhir pembelajaran. Setiap guru bisa menetukan tujuan yang ingin
dicapai dan fokus pada tujuannya sekaligus bisa mengajak anak-anak untuk berkarya dalam proses membuat projek mandiri yang bisa dilakukan di
sekolah maupun dirumah, hal ini bisa melatih anak-anak untuk komitmen dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan
tugasnya.
Mengutip kembali yang
disampaikan oleh narasumber bahwa banyaknya stigma negatif terhadap penggunaan smartphone
disekolah, sebagian guru masih menganggap bahwa smartphone adalah
“musuh” sehingga munculah larangan membawa smartphone ke sekolah. Sekolah
sepertinya ingin melepaskan diri dari tanggung jawab menggunakan smartphone.
Dilain sisi orang tua begitu mudahnya memberikan fasilitas smartphone kepada
anak. Sebenarnya bukan tanpa alasan, orang tua tentu lebih dimudahkan ketika
anak mereka dibekali smartphone. Ada yang hanya menggunakan untuk
kepentingan dasar yaitu komunikasi. Tapi banyak pula yang tidak hanya sekedar
untuk berkomunikasi. Pendidikan itu tanggung jawab bersama ketika orang tua
mengharuskan membawa smartphone meskipun hanya untuk berkomunikasi. Dan
sementara itu sekolah melarang anak membawa smartphone ke sekolah, maka
ini tentu tidak akan sinkron.
Kita menyadari bahwa Smartphone
memang banyak sisi negatifnya tetapi bukan berarti bahwa smartphone
tidak bisa memberikan kontribusi positif terhadap pendidikan. Hal ini sangat
tergantung dengan kita sebagai orang tua dan guru dalam hal mendidik.
Pakwaronline.com juga
menyampaikan bahwa banyak peluang pembelajaran yang menarik berbantuan games
edukatif dan membuatnya pun cukup dalam hitungan menit. Pesan terahir yang
disampaikan bahwa “Musuh terbesar kita bukan smartphone. Musuh kita
adalah kemalasan dalam membuat pembelajaran yang menarik.”
Temu Pendidik Sekolah # Komunitas
Guru Belajar Banyumas
Kampus 2 SDIT TOP Kids
Jln.Kridamandala Sokaraja tengah Banyumas Jawa tengah
Korespondensi : Wayan Hairunnaimah (
SDIT TOP Kids )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar